oleh Atika Noerma H
* huahaha, ini cerpen
tugas bahasa indonesia, bikinnya ndadak super ndadak, sebenernya kalo baca
judulnya aja udah kayak sinetron gitu yak, tapi semoga isinya enggak deh, nice
read :) *
Seorang gadis berambut
hitam mengenakan terusan rok selutut tengah duduk termenung sendirian. Entah
sudah berapa kali jarum panjang pada jam tangannya melewati angka duabelas, ia
masih saja duduk di atas kursi kayu yang terdapat di depan teras rumahnya.
Kursi itu nampak sudah berlubang dan reot termakan usia. Di tangannya, tampak
ia sedang membawa secarik kertas dan beberapa lembar uang yang sudah lusuh. Di
sampingnya juga tergeletak sebuah tas sekolah berwarna merah muda dan sebuah
lagi yang berwarna hitam dan sudah putus salah satu talinya. Mata gadis itu
terlihat sembab. Mungkin karena ia terlalu banyak mengeluarkan air mata selama
ia duduk di kursi tua itu.
Tiba-tiba ia seperti
mendengar suara baritone seseorang dari dalam rumahnya. Entah itu memang
kenyataan ataukah hanya halusinasi saja, ia sendiri tak yakin. Pemilik suara
itu berkata, “Jangan sedih lagi ya, nduk.” Seketika, terputar kembali ingatan
tentang peristiwa beberapa tahun lalu bersama sang pemilik suara tadi.
***
Seorang gadis
membanting pintu rumahnya dengan keras sehingga debu dari atap rumah berjatuhan
dan membuang tasnya sembarangan ke lantai. Wajahnya tambak kesal. Ia berjalan
ke arah belakang rumah sambil berteriak, “Pak! Bapak! Sini deh.” Seseorang yang
dipanggil bapak itu langsung bergegas meninggalkan benda-benda rongsok yang
sedang ia pilihi menuju arah suara berasal. “Iya, ada apa nduk? Pulang sekolah
kok teriak-teriak? Apa ada masalah?” tanyanya dengan hati-hati.
“Pak, aku minta
dibelikan sepatu baru yang mereknya Nike ya.”
“Loh kenapa? Bapak
sedang tidak punya uang, nduk. Sepatumu kan juga masih bisa dipakai, pakai itu
saja dulu. Besok kalau bapak sudah punya uang pasti bapak belikan yang baru.
Utang di beras di warung sebelah saja bapak belum bisa membayar, nduk.” Kata
sang bapak sambil membenarkan rambut anaknya yang sedikit berantakan.
“Tapi pak, tolong
lihat. Apa sepatu seperti ini masih bisa dipakai? Aku sudah tidak tahan setiap
hari mendengar ejekan teman-temanku karena aku memakai sepatu butut ini. Mereka
semua memakai sepatu bermerek dan bagus. Tas yang kupunya juga talinya sudah
putus sebelah. Pokoknya besok bapak harus membelikanku tas dan sepatu baru!”
Terangnya sambil menunjuk sepatu yang ia pakai. Memang sudah terlihat tidak
bagus, bahkan alas sepatunya sudah terlepas dari bagian atasnya.
“Tapi nduk.. Bagaimana
bapak bisa membelikanmu sepatu mahal seperti itu sedangkan bapak tidak
mempunyai uang, bersabarlah sedikit bapak akan mengumpulkan uang, tapi tidak
besok.”
Gadis itu menendangkan
kakinya ke tanah dengan kesal, dan akhirnya menangis.
“Hiks.. Hiks.. Hiks.. Bapak
tidak tahu bagaimana malunya aku pergi ke sekolah dengan penampilan seperti ini.
Pokoknya aku tidak mau tahu, besok bapak harus membelikanku tas dan sepatu
baru. Dan aku tidak akan berangkat ke sekolah kalau harus memakai sepatu dan
tas itu lagi. Kalau bisa hari ini bapak tidak usah pulang dan terus mencari
rongsokan saja supaya dapat uang banyak!"
Setelah itu, ia masuk
ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan kasar sehingga menimbuklan suara
debam. Ia meninggalkan bapaknya yang masih berdiri di tempat yang sama. Dengan
perasaan yang tak tertebak sang bapak kembali ke pekerjaanya melilih-milih
rongsok yang tadi sempat ia tinggalkan.
Keesokan harinya gadis
itu tidak mau keluar dari kamarnya dan tidak mau berangkat ke sekolah.
“Ara, ayo nduk bangun,
kamu harus berangkat ke sekolah. Bapak sudah buatkan mie untuk sarapan.” Namun
tidak ada jawaban dari yang diajak bicara. Kemudian si bapak menghela nafas dan
kembali berbicara.
“Iya nduk, nanti bapak
akan cari uang yang banyak. Bapak tidak akan pulang sebelum mendapatkan uang
untuk membelikanmu tas dan sepatu baru. Tapi untuk hari ini saja, berangkatlah
ke sekolah dan jangan lupa sarapan ya nduk. Nanti akan bapak usahakan.” Setelah
itu sang bapak segera mengambil sepeda ontel tuanya dan berangkat bekerja
mencari rongsokan.
Gadis yang bernama Ara
itu kemudian keluar dari kamarnya dan mendapati bapaknya sudah tidak ada di
rumah. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia katakan pada bapaknya, tetapi
tidak tersampaikan karena sang bapak sudah terlanjur pergi. Ia lalu
melaksanakan perintah sang bapak untuk berangkat sekolah dan tidak lupa
sarapan. Tetapi sebelum berangkat sekolah tidak lupa ia menemplakan doubletip pada alas sepatunya dan
mengaitkan tali tasnya yang putus dengan peniti.
Selama di sekolahan
gadis itu hanya berdiam diri di kelas dan tidak keluar kemanapun. Setelah bel
pulang berbunyi, ia langsung membereskan buku-bukunya dan segera pulang ke
rumah karena sebentar lagi teman-temannya pasti akan mulai mengejeknya lagi.
Sesampaiya di rumah,
Ara memandangi kedua benda yang penampilannya sangat mengenaskan itu. Dalam
hati ia berkata, bahwa ia tidak akan pernah memakai benda rongsokan itu karena
sebentar lagi ia akan mendapatkan sepatu dan tas yang baru dan tentunya lebih
bagus. Ia juga berpikir bahwa ia benar-benar tidak akan berangkat ke sekolah
lagi jika bapaknya tidak bisa membelikannya.
Sudah lewat jam sepuluh
malam, tetapi sang bapak belum juga pulang. Sebenarnya ia sedikit khawatir,
tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidur dan melihat apakah besok ayahnya akan
kembali dengan apa yang ia inginkan.
Keesokan paginya, Ara
benar-benar tidak berangkat ke sekolah. Bukan karena keinginannya tak
terpenuhi, bahkan saat ia membuka matanya di sebelahnya sudah ada sebuah tas
baru berwarna merah muda. Tetapi karena tetangganya mendapatkan kabar bahwa
tadi malam saat mencari rongsokan bapaknya ditusuk oleh orang tak dikenal yang
sedang mabuk dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Deg. Rasanya
seperti dilesakkan ke dalam tanah. Sangat menyesal.
***
Gadis itu masih duduk
termenung di kursi kayu tua yang reot itu, ia terus membaca ulang tulisan latin
yang terdapat pada secarik kertas yang ia bawa.
‘Nduk, maaf bapak tidak
membangunkamu karena sudah malam, supaya besok kamu tidak terlambat. Ini tas
barumu ya nduk, kerja bapak hari ini cuma bisa untuk beli tas saja. Besok pagi,
belilah bubur untuk sarapanmu, uang ada di tas barumu. Kalau kurang, bilang
saja nanti bapak yang bayar. Kamu berangkat sekolah ya nduk, bapak berangkat
lagi supaya cepat dapat uang. Bapak janji akan belikan sepatu baru, tapi kamu
harus sekolah.’ Dan untuk kesekian kalinya, air mata kembali menetes karena
janji itu tak kan pernah terpenuhi.
Tiiin... Tiiin... Tiin...
Suara klakson itu membuat Ara kaget. Ia baru sadar kalau bibinya sudah menunggu
di mobil. Ia segera mengambil dua buah tas yang ada dan segera bergegas menuju
mobil, meninggalkan rumah kosong itu beserta semua kenangan yang ada.