Saturday, 28 September 2013

SEPARUH JANJI

oleh Atika Noerma H

* huahaha, ini cerpen tugas bahasa indonesia, bikinnya ndadak super ndadak, sebenernya kalo baca judulnya aja udah kayak sinetron gitu yak, tapi semoga isinya enggak deh, nice read :) *

Seorang gadis berambut hitam mengenakan terusan rok selutut tengah duduk termenung sendirian. Entah sudah berapa kali jarum panjang pada jam tangannya melewati angka duabelas, ia masih saja duduk di atas kursi kayu yang terdapat di depan teras rumahnya. Kursi itu nampak sudah berlubang dan reot termakan usia. Di tangannya, tampak ia sedang membawa secarik kertas dan beberapa lembar uang yang sudah lusuh. Di sampingnya juga tergeletak sebuah tas sekolah berwarna merah muda dan sebuah lagi yang berwarna hitam dan sudah putus salah satu talinya. Mata gadis itu terlihat sembab. Mungkin karena ia terlalu banyak mengeluarkan air mata selama ia duduk di kursi tua itu.
Tiba-tiba ia seperti mendengar suara baritone seseorang dari dalam rumahnya. Entah itu memang kenyataan ataukah hanya halusinasi saja, ia sendiri tak yakin. Pemilik suara itu berkata, “Jangan sedih lagi ya, nduk.” Seketika, terputar kembali ingatan tentang peristiwa beberapa tahun lalu bersama sang pemilik suara tadi.
***
Seorang gadis membanting pintu rumahnya dengan keras sehingga debu dari atap rumah berjatuhan dan membuang tasnya sembarangan ke lantai. Wajahnya tambak kesal. Ia berjalan ke arah belakang rumah sambil berteriak, “Pak! Bapak! Sini deh.” Seseorang yang dipanggil bapak itu langsung bergegas meninggalkan benda-benda rongsok yang sedang ia pilihi menuju arah suara berasal. “Iya, ada apa nduk? Pulang sekolah kok teriak-teriak? Apa ada masalah?” tanyanya dengan hati-hati.
“Pak, aku minta dibelikan sepatu baru yang mereknya Nike ya.”
“Loh kenapa? Bapak sedang tidak punya uang, nduk. Sepatumu kan juga masih bisa dipakai, pakai itu saja dulu. Besok kalau bapak sudah punya uang pasti bapak belikan yang baru. Utang di beras di warung sebelah saja bapak belum bisa membayar, nduk.” Kata sang bapak sambil membenarkan rambut anaknya yang sedikit berantakan.
“Tapi pak, tolong lihat. Apa sepatu seperti ini masih bisa dipakai? Aku sudah tidak tahan setiap hari mendengar ejekan teman-temanku karena aku memakai sepatu butut ini. Mereka semua memakai sepatu bermerek dan bagus. Tas yang kupunya juga talinya sudah putus sebelah. Pokoknya besok bapak harus membelikanku tas dan sepatu baru!” Terangnya sambil menunjuk sepatu yang ia pakai. Memang sudah terlihat tidak bagus, bahkan alas sepatunya sudah terlepas dari bagian atasnya.
“Tapi nduk.. Bagaimana bapak bisa membelikanmu sepatu mahal seperti itu sedangkan bapak tidak mempunyai uang, bersabarlah sedikit bapak akan mengumpulkan uang, tapi tidak besok.”
Gadis itu menendangkan kakinya ke tanah dengan kesal, dan akhirnya menangis.
“Hiks.. Hiks.. Hiks.. Bapak tidak tahu bagaimana malunya aku pergi ke sekolah dengan penampilan seperti ini. Pokoknya aku tidak mau tahu, besok bapak harus membelikanku tas dan sepatu baru. Dan aku tidak akan berangkat ke sekolah kalau harus memakai sepatu dan tas itu lagi. Kalau bisa hari ini bapak tidak usah pulang dan terus mencari rongsokan saja supaya dapat uang banyak!"
Setelah itu, ia masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya dengan kasar sehingga menimbuklan suara debam. Ia meninggalkan bapaknya yang masih berdiri di tempat yang sama. Dengan perasaan yang tak tertebak sang bapak kembali ke pekerjaanya melilih-milih rongsok yang tadi sempat ia tinggalkan.
Keesokan harinya gadis itu tidak mau keluar dari kamarnya dan tidak mau berangkat ke sekolah.
“Ara, ayo nduk bangun, kamu harus berangkat ke sekolah. Bapak sudah buatkan mie untuk sarapan.” Namun tidak ada jawaban dari yang diajak bicara. Kemudian si bapak menghela nafas dan kembali berbicara.
“Iya nduk, nanti bapak akan cari uang yang banyak. Bapak tidak akan pulang sebelum mendapatkan uang untuk membelikanmu tas dan sepatu baru. Tapi untuk hari ini saja, berangkatlah ke sekolah dan jangan lupa sarapan ya nduk. Nanti akan bapak usahakan.” Setelah itu sang bapak segera mengambil sepeda ontel tuanya dan berangkat bekerja mencari rongsokan.
Gadis yang bernama Ara itu kemudian keluar dari kamarnya dan mendapati bapaknya sudah tidak ada di rumah. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin dia katakan pada bapaknya, tetapi tidak tersampaikan karena sang bapak sudah terlanjur pergi. Ia lalu melaksanakan perintah sang bapak untuk berangkat sekolah dan tidak lupa sarapan. Tetapi sebelum berangkat sekolah tidak lupa ia menemplakan doubletip pada alas sepatunya dan mengaitkan tali tasnya yang putus dengan peniti.
Selama di sekolahan gadis itu hanya berdiam diri di kelas dan tidak keluar kemanapun. Setelah bel pulang berbunyi, ia langsung membereskan buku-bukunya dan segera pulang ke rumah karena sebentar lagi teman-temannya pasti akan mulai mengejeknya lagi.
Sesampaiya di rumah, Ara memandangi kedua benda yang penampilannya sangat mengenaskan itu. Dalam hati ia berkata, bahwa ia tidak akan pernah memakai benda rongsokan itu karena sebentar lagi ia akan mendapatkan sepatu dan tas yang baru dan tentunya lebih bagus. Ia juga berpikir bahwa ia benar-benar tidak akan berangkat ke sekolah lagi jika bapaknya tidak bisa membelikannya.
Sudah lewat jam sepuluh malam, tetapi sang bapak belum juga pulang. Sebenarnya ia sedikit khawatir, tapi akhirnya ia memutuskan untuk tidur dan melihat apakah besok ayahnya akan kembali dengan apa yang ia inginkan.
Keesokan paginya, Ara benar-benar tidak berangkat ke sekolah. Bukan karena keinginannya tak terpenuhi, bahkan saat ia membuka matanya di sebelahnya sudah ada sebuah tas baru berwarna merah muda. Tetapi karena tetangganya mendapatkan kabar bahwa tadi malam saat mencari rongsokan bapaknya ditusuk oleh orang tak dikenal yang sedang mabuk dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Deg. Rasanya seperti dilesakkan ke dalam tanah. Sangat menyesal.
***
Gadis itu masih duduk termenung di kursi kayu tua yang reot itu, ia terus membaca ulang tulisan latin yang terdapat pada secarik kertas yang ia bawa.
‘Nduk, maaf bapak tidak membangunkamu karena sudah malam, supaya besok kamu tidak terlambat. Ini tas barumu ya nduk, kerja bapak hari ini cuma bisa untuk beli tas saja. Besok pagi, belilah bubur untuk sarapanmu, uang ada di tas barumu. Kalau kurang, bilang saja nanti bapak yang bayar. Kamu berangkat sekolah ya nduk, bapak berangkat lagi supaya cepat dapat uang. Bapak janji akan belikan sepatu baru, tapi kamu harus sekolah.’ Dan untuk kesekian kalinya, air mata kembali menetes karena janji itu tak kan pernah terpenuhi.
Tiiin... Tiiin... Tiin... Suara klakson itu membuat Ara kaget. Ia baru sadar kalau bibinya sudah menunggu di mobil. Ia segera mengambil dua buah tas yang ada dan segera bergegas menuju mobil, meninggalkan rumah kosong itu beserta semua kenangan yang ada.

Wednesday, 11 September 2013

something from the past

apa yang akan kamu lakukan, jika sesuatu yang sangat amat ingin kamu miliki di masa lalu, yang bahkan kamu sendiri tidak mampu untuk memintanya menjadi milikmu, dan sekarang disaat kamu hampir lupa dengan keinginanmu, sesuatu dari masa lalu itu datang dengan sendirinya menawarkan diri untuk menjadi milikmu?